Faith Message
Faith Message
Pembahasan lebih mendalam untuk refleksi, pengajaran, dan pertumbuhan iman.
Faith Message
IMAN YANG TIDAK BISA DIPALSUKAN
Allah tidak sedang berbicara kepada orang yang tidak pernah beribadah. Ia berbicara kepada umat yang aktif hadir dalam ritual namun hatinya tidak beranjak dari tempat parkir. Hosea menyebutnya dengan jelas: "Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar." Melalui Hosea 6:6, Mazmur 50, Roma 4, dan Matius 9, khotbah ini menelusuri satu pertanyaan mendasar: seperti apa iman yang tidak bisa dipalsukan?
Faith Message
Kecil di Mata Semesta, Mulia di Mata-Nya
Tiga Gerakan Allah Tritunggal dalam Hidup Kita Di tengah dunia yang mempertanyakan siapa manusia sebenarnya, Alkitab menjawab dengan tiga gerakan ilahi yang tak terpisahkan: kita dicipta oleh Allah Tritunggal dengan martabat penuh, dipersatukan dalam kasih dan persekutuan-Nya, lalu diutus ke dunia membawa Injil keselamatan. Khotbah ini menggali keempat teks — Kejadian 1, Mazmur 8, 2 Korintus 13, dan Matius 28 — sebagai simfoni teologis yang berbicara langsung ke tantangan hidup masa kini.
Faith Message
ROH KUDUS: Nafas Allah yang Menghidupkan, Air Hidup yang Mengalir
Pentakosta bukan sekadar peringatan turunnya Roh Kudus di masa lampau — ini adalah perayaan bahwa Allah masih hadir, bergerak, dan mengalir di tengah umat-Nya hari ini. Dari padang gurun Musa hingga Yerusalem yang penuh api, satu pesan bergema: Roh Kudus diberikan bukan untuk dimiliki segelintir orang, tetapi untuk menghidupkan, memperbarui, mempersatukan, dan mengutus seluruh umat Allah. Di tengah dunia yang haus — haus akan damai, makna, kasih, dan pengharapan — Yesus masih berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum."
Faith Message
Diutus, Dijaga, dan Dimuliakan Bersama-Nya
Kenaikan Tuhan Yesus bukan perpisahan — itu pelantikan. Ia naik bukan untuk meninggalkan kita, tetapi untuk memerintah, menjaga, dan mengutus kita dengan kuasa Roh-Nya. Di tengah dunia yang menekan, gereja dipanggil bukan untuk lari, melainkan untuk bertahan dengan rendah hati, sadar, dan setia — karena yang mengutus kita adalah Ia yang telah dimuliakan Bapa.