Jemaat Galatia sedang berada dalam pergumulan teologis yang serius.

Sekelompok pengajar — yang sering disebut "kaum Yudais" — masuk ke dalam jemaat dan mengajarkan bahwa orang percaya bukan Yahudi harus disunat dan menaati hukum Taurat agar diselamatkan dengan sempurna. Mereka menambahkan syarat di luar iman kepada Kristus — seolah-olah salib saja tidak cukup, seolah-olah anugerah Allah masih perlu dilengkapi dengan usaha dan ritual manusia.

Kepada jemaat yang sedang bingung dan tertekan oleh ajaran ini, Paulus menulis dengan tegas: "bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti."

Ini adalah pernyataan yang sangat berani pada zamannya. Sunat bukan sekadar ritual biasa bagi orang Yahudi — itu adalah tanda perjanjian Allah dengan Abraham, simbol identitas keagamaan yang paling fundamental selama ribuan tahun. Namun Paulus berkata: di dalam Kristus, simbol lahiriah itu kehilangan kekuatannya untuk menentukan status seseorang di hadapan Allah.

Lalu apa yang sesungguhnya berarti? Paulus menjawab dengan satu frasa yang sangat padat namun sangat dalam: "hanya iman yang bekerja oleh kasih."

Perhatikan baik-baik susunan kalimat ini. Paulus tidak berkata "hanya iman" titik. Ia juga tidak berkata "hanya kasih" titik. Ia menyatukan keduanya dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan: iman yang bekerja oleh kasih.

Ini adalah penyeimbang penting terhadap dua kesalahan yang sering terjadi dalam kehidupan rohani.

Kesalahan pertama adalah iman yang pasif — iman yang hanya berhenti pada pengakuan mulut tanpa pernah berbuah dalam tindakan nyata. Yakobus menulis dengan tegas bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17). Paulus, meskipun dikenal sebagai pembela utama keselamatan oleh iman dan bukan oleh perbuatan, di sini justru menegaskan hal yang sama: iman yang sejati tidak pernah diam. Ia selalu "bekerja" — kata Yunani energeo, dari mana kita mendapat kata "energi" — sebuah iman yang aktif, dinamis, dan terus bergerak menghasilkan buah.

Kesalahan kedua adalah kasih atau perbuatan baik yang dilakukan tanpa iman — kebaikan yang berusaha membenarkan diri di hadapan Allah melalui usaha sendiri. Inilah yang sedang diperangi Paulus dalam surat ini. Sunat, ritual, dan ketaatan hukum yang dilakukan untuk mendapatkan keselamatan, bukan sebagai respons terhadap keselamatan yang sudah diterima, adalah kasih yang kehilangan akarnya. Tanpa iman yang mendasarinya, kebaikan semacam itu hanya menjadi usaha manusia mencari pembenaran diri — sesuatu yang sebenarnya menggeser kemuliaan dari Kristus kepada diri sendiri.

Iman yang bekerja oleh kasih adalah penyatuan kedua hal ini: kepercayaan yang sepenuhnya bersandar pada karya Kristus, yang kemudian secara alami menghasilkan tindakan kasih yang nyata kepada sesama.

Bagaimana kita tahu bahwa iman kita sudah "bekerja oleh kasih"? Pertanyaannya sederhana namun menantang: apakah imanmu mengubah cara kamu memperlakukan orang lain? Apakah kepercayaanmu kepada Kristus terlihat dalam kesabaranmu kepada pasangan, kemurahan hatimu kepada orang asing, kerelaanmu mengampuni orang yang menyakitimu, kepedulianmu kepada mereka yang menderita?

Jika iman kita hanya tinggal sebagai pengetahuan teologis atau identitas keagamaan — seperti sunat bagi orang Yahudi pada zamannya — tanpa pernah bergerak menjadi kasih yang nyata, maka kita sedang kehilangan inti dari apa yang Paulus maksudkan di sini.

Bukan ritual yang menyelamatkan. Bukan juga kebaikan yang berdiri sendiri. Melainkan iman sejati yang, karena anugerah yang sudah diterima, tidak bisa berhenti mengasihi.