Surat kepada jemaat di Smirna adalah salah satu yang paling singkat di antara tujuh surat dalam Wahyu pasal 2 dan 3 — namun juga salah satu yang paling berat.
Berbeda dengan jemaat-jemaat lain yang menerima teguran atas berbagai kompromi dan dosa, jemaat Smirna tidak menerima satu teguran pun. Kristus hanya berbicara tentang penderitaan mereka: "Aku tahu kesengsaraanmu dan kemiskinanmu — namun sesungguhnya engkau kaya" (Wahyu 2:9). Jemaat ini hidup dalam tekanan yang luar biasa — fitnah, penganiayaan dari mereka yang menyebut diri orang Yahudi namun sebenarnya "sinagoge Iblis," dan ancaman penjara yang akan segera mereka hadapi.
Kepada jemaat yang sedang berdiri di ambang penderitaan inilah Kristus berkata: "Janganlah takut terhadap apa yang harus engkau derita... Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."
Ada beberapa kebenaran yang sangat dalam tersembunyi dalam kalimat singkat ini.
Pertama, Kristus tidak menjanjikan pembebasan dari penderitaan — Ia menjanjikan kemenangan melaluinya. Ini berbeda dari yang sering kita harapkan ketika kita berdoa dalam kesulitan. Kita sering meminta agar penderitaan diangkat. Tetapi kepada jemaat Smirna, Kristus tidak berkata "Aku akan menyingkirkan penjara itu darimu." Ia justru mempersiapkan mereka untuk menghadapinya — dengan janji bahwa kesetiaan di tengah penderitaan itulah yang akan membawa kepada mahkota.
Kedua, perhatikan frasa "sampai mati." Ini bukan ungkapan kiasan yang ringan. Bagi jemaat Smirna, ini adalah kemungkinan yang sangat nyata — beberapa dari mereka memang akan mengalami kemartiran. Sejarah mencatat Polikarpus, uskup Smirna di kemudian hari, yang dibakar hidup-hidup karena menolak menyangkal Kristus, dengan kata-kata terkenalnya: "Delapan puluh enam tahun aku melayani-Nya, dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?" Kesetiaan yang dipanggil Kristus di sini bukan kesetiaan yang nyaman — ini adalah kesetiaan yang berani membayar harga tertinggi.
Ketiga, mahkota yang dijanjikan bukan mahkota kekuasaan duniawi, melainkan "mahkota kehidupan." Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah stephanos — bukan mahkota kerajaan (diadema), melainkan mahkota kemenangan, jenis yang diberikan kepada para pemenang dalam perlombaan atletik atau para pahlawan perang. Ini adalah simbol kemenangan yang diraih melalui perjuangan, bukan diberikan secara cuma-cuma tanpa usaha. Kesetiaan adalah perlombaan, dan mahkota itu adalah hadiah bagi mereka yang menyelesaikannya hingga garis akhir.
Bagi kebanyakan kita hari ini, kesetiaan mungkin tidak selalu berarti menghadapi kemartiran fisik. Tetapi panggilan kesetiaan tetap nyata dalam bentuk-bentuk lain: bertahan dalam iman ketika lingkungan menekan kita untuk berkompromi, tetap setia melayani ketika tidak ada yang melihat atau menghargai, terus percaya kepada Allah ketika doa-doa belum dijawab seperti yang kita harapkan, dan terus mengasihi ketika lebih mudah untuk menyerah dan pergi.
Setiap musim yang menguji kesetiaan kita — sekecil atau sebesar apapun bentuknya — adalah kesempatan untuk membuktikan apa yang sesungguhnya kita percayai tentang Kristus. Apakah kita akan setia hanya ketika mudah, atau apakah kita akan tetap setia bahkan ketika harganya terasa sangat mahal?
Hari ini, ingatlah bahwa Kristus yang berkata kepada jemaat Smirna tidak meninggalkan mereka untuk berjuang sendirian. Ia yang adalah "Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali" (Wahyu 2:8) — Ia sendiri sudah menanggung penderitaan terberat dan bangkit dalam kemenangan. Kesetiaan kita bukan berdiri di atas kekuatan kita sendiri, melainkan disandarkan pada Dia yang sudah lebih dulu setia sampai mati bagi kita.
Mahkota kehidupan tidak diberikan kepada mereka yang tidak pernah jatuh — melainkan kepada mereka yang tetap setia sampai akhir, betapapun berat jalan yang harus mereka tempuh.