Allah mengutus Yeremia ke tempat yang tidak biasa: rumah tukang periuk.
Di sana, Yeremia menyaksikan sesuatu yang sederhana namun sarat makna. Sang tukang periuk sedang bekerja di pelarikan, membentuk sebuah bejana dari tanah liat. Tetapi bejana itu rusak di tangannya — tidak jadi seperti yang ia kehendaki. Apa yang dilakukan tukang periuk itu? Ia tidak membuang tanah liat itu. Ia mengolahnya kembali, membentuknya menjadi bejana lain, menurut apa yang baik menurut pertimbangannya (Yeremia 18:4).
Dari pemandangan sehari-hari inilah Allah berbicara kepada seluruh bangsa Israel: "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini? Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku."
Ada beberapa kebenaran mendalam yang tersembunyi dalam gambaran sederhana ini.
Pertama, kedaulatan Allah atas hidup kita bersifat penuh dan personal. Tanah liat tidak memiliki hak untuk menentukan bentuknya sendiri. Ia sepenuhnya bergantung pada keterampilan dan kehendak sang penjunan. Ini bukan gambaran yang membuat kita merasa kecil dan tidak berarti — sebaliknya, ini adalah gambaran kepercayaan. Sang Penjunan Agung yang membentuk kita bukan tangan yang sembarangan. Ia adalah Allah yang penuh hikmat, yang tahu persis bentuk terbaik bagi setiap kehidupan yang Ia pegang.
Kedua, perhatikan apa yang terjadi ketika bejana itu rusak di tangan penjunan. Tukang periuk tidak membuang tanah liat yang gagal jadi itu. Ia mengolahnya kembali. Ini adalah salah satu gambaran paling indah tentang anugerah Allah dalam seluruh Perjanjian Lama. Ketika hidup kita "rusak" — karena dosa, kegagalan, atau keadaan yang di luar kendali kita — Allah tidak membuang kita. Ia membentuk ulang. Proses pembentukan ulang itu mungkin terasa seperti tekanan tangan yang menekan, memutar, dan membentuk ulang bagian-bagian yang sudah kita anggap final. Tetapi itu bukan tanda penolakan. Itu tanda bahwa Sang Penjunan belum selesai dengan kita.
Ketiga, ada panggilan tersembunyi bagi tanah liat: tetap lentur. Inilah bagian yang paling menantang dari gambaran ini. Tanah liat yang sudah mengering tidak bisa dibentuk lagi — ia hanya bisa retak dan pecah ketika ditekan. Hati yang keras kepala, yang menolak proses pembentukan Allah, pada akhirnya hanya akan menyakiti dirinya sendiri ketika tekanan hidup datang. Sebaliknya, hati yang lentur — yang menyerahkan diri pada proses, sekalipun terasa tidak nyaman — adalah hati yang bisa terus dibentuk menjadi sesuatu yang indah dan berguna.
Konteks Yeremia 18 ini sebenarnya adalah seruan kepada bangsa Israel yang sedang menuju penghukuman karena pemberontakan mereka. Tetapi gambaran tukang periuk ini juga membawa pesan harapan: selama tanah liat itu masih di tangan sang penjunan, masih ada kemungkinan untuk dibentuk ulang. Penghakiman bukanlah kata akhir bagi mereka yang mau kembali lentur di tangan-Nya.
Hari ini, mungkin kamu sedang merasakan tangan Allah sedang menekan, memutar, membentuk ulang area dalam hidupmu yang terasa menyakitkan — sebuah hubungan yang berakhir, rencana yang gagal, musim yang penuh ketidakpastian. Pertanyaannya bukan mengapa Allah melakukan ini. Pertanyaannya adalah: apakah kamu akan tetap lentur di tangan-Nya, atau mengeras dan menolak proses-Nya?
Tanah liat yang terbaik bukanlah yang tidak pernah ditekan — melainkan yang tetap lentur sepanjang proses pembentukan, sampai akhirnya menjadi bejana yang indah di tangan Sang Penjunan.