Pasal 15 Imamat berbicara tentang berbagai kenajisannya tubuh yang tampaknya sangat teknis, sangat detail, dan — bagi pembaca modern — sangat asing. Kenajisannya karena penyakit, kenajisannya karena berbagai proses tubuh, aturan demi aturan yang panjang dan terperinci. Mengapa Allah repot-repot mengaturnya sedemikian ketat?

Jawaban ada di ayat penutup ini — dan ia lebih dalam dari yang kita sangka.

"Supaya mereka jangan mati di dalam kenajisannya, bila mereka menajiskan Kemah Suci-Ku yang ada di tengah-tengah mereka."

Kunci dari seluruh pasal ini bukan pada kenajisannya itu sendiri — melainkan pada tiga kata yang mengubah segalanya: "di tengah-tengah mereka." Allah tidak memerintah dari kejauhan. Ia tidak menempatkan diri-Nya di puncak gunung yang tidak terjangkau dan berteriak aturan dari atas. Ia memilih untuk tinggal di tengah-tengah umat-Nya — di dalam kemah yang berdiri di pusat perkemahan Israel, dikelilingi oleh tenda-tenda manusia biasa yang tidur, makan, bekerja, dan hidup sehari-hari di sekitarnya.

Dan justru keputusan Allah untuk tinggal sedekat itulah yang membuat kekudusan menjadi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan yang menyelamatkan nyawa.

Bayangkan: api yang dibiarkan terlalu dekat dengan bahan yang mudah terbakar bukan hanya membahayakan satu titik — ia bisa membakar seluruhnya. Bukan karena api itu jahat, tetapi karena itulah hakikat api yang sejati. Kekudusan Allah bukan ancaman yang sewenang-wenang — ia adalah realitas yang tidak bisa ditawar. Kenajisannya yang dibiarkan dan dibawa mendekat kepada hadirat Allah yang kudus itu berbahaya — bukan karena Allah tidak sayang, justru karena Ia terlalu serius dengan kehadiran-Nya di antara mereka.

Maka aturan-aturan ini bukan kekejaman. Ini adalah kasih yang memberi jalan keluar. Allah tidak berkata "jauhi Aku karena kamu najis." Ia berkata "inilah cara menjadi tahir, supaya kamu bisa tetap tinggal dekat dengan-Ku."

Bagi kita yang hidup di sisi lain salib, hukum-hukum seremonial ini sudah digenapi oleh Kristus yang adalah Imam Besar kita. Tubuh kita kini adalah Bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19-20) — Allah tidak lagi diam di sebuah kemah di tengah perkemahan, Ia diam di dalam diri kita sendiri. Dan jika demikian, pertanyaan yang diajukan Imamat 15:31 menjadi semakin personal dan semakin mendesak:

Apakah kita hidup serius di hadapan Allah yang tinggal seserius itu di dalam kita?

Terlalu sering kita memperlakukan kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita sebagai sesuatu yang sudah kita dapatkan, sudah aman, sudah beres. Kita lupa bahwa Yang Kudus tinggal di dalam kita — dan cara kita mengisi pikiran, memilih tontonan, berkata-kata, dan memperlakukan tubuh kita bukan urusan pribadi yang netral. Itu adalah urusan yang menyangkut kekudusan Sang Tamu Agung yang tinggal di dalam kita.

Hari ini, sebelum kita melangkah lebih jauh, ada satu pertanyaan yang layak kita bawa dalam doa:

"Tuhan, adakah kenajisan yang kubiarkan tinggal di tempat yang Kau diami?"

Allah tinggal di tengah-tengahmu bukan agar hidupmu biasa-biasa saja — Ia tinggal agar hidupmu menjadi kudus, penuh, dan benar-benar hidup.