Hosea berbicara kepada bangsa yang tahu nama Allah, tetapi tidak mengenal hati-Nya.
Israel di zaman Hosea bukan bangsa yang ateis. Mereka masih ke tempat ibadah, masih membawa korban, masih menyebut nama Tuhan. Tetapi Allah menyebut kasih setia mereka seperti embun pagi — indah sebentar, lalu lenyap begitu matahari naik (Hosea 6:4). Mereka mengenal Allah seperti orang mengenal nama tetangga — tahu siapa, tetapi tidak pernah benar-benar duduk bersama dan saling memahami.
Kepada bangsa itulah Hosea berseru: "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN."
Dua kata yang sama — mengenal — namun diulang dengan intensitas yang meningkat. Ini bukan kebetulan. Dalam bahasa Ibrani, da'at (mengenal) bukan sekadar pengetahuan intelektual. Ini adalah pengenalan yang intim, relasional, dan personal — seperti pengenalan antara suami dan istri, antara sahabat yang sudah melewati badai bersama. Mengenal Allah dalam pengertian ini tidak bisa dicapai hanya dengan menghafal ayat atau menghadiri kebaktian. Ini membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesediaan untuk membiarkan Allah menyentuh bagian-bagian diri kita yang paling dalam.
Dan kata "berusaha sungguh-sungguh" dalam bahasa aslinya mengandung makna mengejar dengan segenap tenaga — seperti seorang pelari yang melesat menuju garis akhir, seperti seorang petani yang tidak berhenti mengolah tanah meski punggungnya sudah pegal.
Ini adalah pengenalan yang aktif, bukan pasif.
Lalu datanglah janji yang paling indah di penghujung ayat ini: "Ia pasti muncul seperti fajar." Perhatikan kata "pasti." Bukan mungkin. Bukan kalau kamu cukup layak. Bukan kalau kondisinya sempurna. Pasti. Seperti fajar yang tidak pernah sekali pun gagal muncul sejak hari pertama penciptaan — demikianlah kepastian Allah untuk menyatakan diri-Nya kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya.
Namun fajar hanya dinikmati oleh mereka yang mau bangun lebih awal.
Di sinilah tantangan yang paling relevan bagi kita hari ini. Kita hidup di zaman yang menawarkan seribu cara untuk mengisi waktu — dan hampir semuanya lebih mudah, lebih cepat, dan lebih menghibur daripada duduk diam di hadapan Allah dalam keheningan. Notifikasi lebih menarik perhatian daripada doa. Konten lebih mudah dikonsumsi daripada firman yang direnungkan. Kesibukan terasa lebih produktif daripada keheningan yang tampak tidak menghasilkan apa-apa.
Tetapi Hosea mengingatkan kita: pengenalan yang dangkal menghasilkan iman yang seperti embun — indah sesaat, menguap begitu panas dunia menyentuhnya. Hanya pengenalan yang dikejar dengan sungguh-sungguh yang akan menghasilkan akar yang cukup dalam untuk bertahan.
Hari ini, jadikan satu pertanyaan ini sebagai cermin: Apakah aku sedang benar-benar mengejar Tuhan — atau sekadar merasa cukup dengan tahu tentang Dia?
Fajar-Nya pasti tiba. Pertanyaannya hanya: apakah kamu sedang mengejarnya?